Mengenai Saya

Foto saya
semarang, jawa tengah, Indonesia
Hamdun Al-Qashashar mengatakan, "Jika Iblis berkumpul dengan pasukannya. Mereka tidak merasa gembira seperti kegembiraannya terhadap tiga hal : Orang Mukmin yang membunuh Mukmin lain, orang mati dalam keadaan kafir, dan hati orang yang takut terhadap kemiskinan."
Tampilkan postingan dengan label " SANTRI MBELING ". Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label " SANTRI MBELING ". Tampilkan semua postingan

DO`A BAGI YANG MENGALAMI KERAGUAN DALAM IMAN

DO`A BAGI YANG MENGALAMI KERAGUAN DALAM IMAN





" Berlindung kepada Allah SWT, Berhenti dari keraguannya ". 1



"Membaca : " Aku beiman kepada Allah dan para Rasul-Nya ". 2





Membaca firman Allah SWT : Dialah yang awal dan Dialah yang akhir, Dialah yang nyata dan Dialah yang tersembunyi, dan Dia mengetahui terhadap segala sesuatu ". 3




Lihat :

1. H.R. Bukhari / Fatul Baari : 6/336, Muslim : 1/120
2. H.R. Muslim : 1/119-120
3. Surat Al Hadid : 3, Abu Dawud : 4/329 dihasankan oleh Al Albani dalam Shahih Abu Dawud : 3/962



dr Taufiq Hidayat-Balaikota Semarang-

Rezeki Yang Telah Ditetapkan

Segala puji bagi Allah SWT, Tuhan semesta alam. Sholawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada junjungan kita Sayyidina Muhammad Saw beserta keluarga dan para sahabatnya.

Alhamdulillah, kesempatan kali ini akan saya pergunakan untuk menulis Penjelasan tentang "Rezeki Yang Telah Ditetapkan" dari kitab Al Hikam karya Syekh Ahmad bin Muhammad Ataillah semoga Allah SWT merahmatinya.

Pada penyampaian kali ini semoga dapat bermanfaat bagi saudara-saudaraku tercinta, dan sekaligus dapat menjawab berbagai macam pertanyaan serta sangkaan yang memojokkan Tasawuf yang berhubungan dengan masalah "Rezeki".
Sebagian dari umat ini selalu menggembar-gemborkan dengan tanpa dasar dan tanpa pengetahuan yang mendalam tentang Tasawuf dalam hal masalah mencari rezeki. Kemiskinan yang menjadi simbol dalam Tasawuf selalu diselewengkan, Apa sebenarnya yang salah dengan "Kemiskinan" ? Mengapa mereka menganggap hina "Kemiskinan" ? Bukankah dalam Hadist "Orang-orang miskin akan masuk surga sebelum orang-orang kaya dengan jangka waktu limaratus tahun setengah hari" H.R. At-Turmudzi nomor 2354 dalam "Az Zuhd" menurutnya, ini hadis hasan


Saya akan memberikan contoh yang amat sangat gampang yang tentunya setiap orang dapat menelaahnya tanpa membutuhkan tingkat pendidikan yang tinggi. Coba saudara-saudaraku sekalian renungkan, apa yang telah dikorbankan oleh para pahlawan yang telah berjuang untuk kemerdekaan negeri ini ?  mereka mengorbankan seluruh jiwa-raga dan harta-benda yang mereka miliki untuk memperjuangkan kemerdekaan negeri ini.. Sudah barang tentu "Kematian" dan "Kemiskinan" mereka adalah "Kematian" dan "Kemiskinan" yang mulia dan tidak sia-sia untuk negeri ini. Ini baru sebatas pengorbanan untuk negeri. Coba saudara-saudaraku sekalian renungkan, Apabila hal ini dilakukan untuk jalan Allah Ta`ala ? tentunya jiwa-raga dan harta-benda amat sangat tidak ada artinya.

Yang amat sangat mengherankan saya, mengapa diantara saudara-saudaraku sekalian sering kali menyelewengkan dan  memutar balikkan keadaan dengan menempelkan kata "Pemalas" pada diri orang-orang "Miskin" karena menafkahkan harta-benda mereka secara kaffah di jalan Allah. Bahkan yang menyedihkan ketika mereka menempelkan kata "Konyol" pada diri orang-orang "Syahid" karena mengorbankan jiwa-raga mereka di jalan Allah SWT.
 

Semoga tulisan berikut dapat membuka hati saudara-saudaraku sekalian, bagaimana Tasawuf tentang "Rezeki Yang Telah Ditetapkan". Apakah Tasawuf mengajarkan "Kemalasan" dalam masalah rezeki ? Semoga berikut ini bisa menjadi jawaban.
dr.T.H 














Kesungguhan dalam mencari rezeki yang telah dijamin oleh Allah akan mendapatkannya, dan mengurangi apa yang diwajibkan padamu, adalah termasuk sifat yang menunjukkan basirah (mata hati) yang tertutup.”
      Sesuatu yang telah dijamin oleh Allah kepada seorang hamba adalah rezeki. Sesuatu yang diminta pertanggungjawaban oleh Allah adalah rezeki juga. Pertanggungjawaban itu, tidak lain menempatkan harta yang telah dianugerahkan Allah kepada para hamba adalah dengan menempatkan harta berfungsi ibadah. Dengan demikian setiap harta kekayaan yang dijamin oleh Allah kepada manusia, hendaklah berfungsi benar sebagai jaminan yang diberlakukan sebagai ibadah untuk kepentingan yang berfaedah bagi si pemilik dan bermanfaat pula bagi sesama hamba Allah.
      Sebab harta yang menjadi jaminan itu akan ditarik kembali oleh Allah apabila harta itu tidak memberkan manfaat bagi agama, sesama hamba, dengan hubungannya dengan  keagungan nama Allah Ta`ala. Jaminan itu berarti Allah Ta`ala, adalah pemilik yang sah dari semua harta yang ada ditangan manusia. Allah Ta`ala akan rida apabila rezeki Allah itu akan menghidupkan syariat, kesejahteraan para hamba Allah, dan tentu Allah akan murka apabila rezeki itu jatuh ketempat maksiat.
      Selain itu pengertian yang dapat diambil dari perkataan sungguh-sungguh diatas, adalah menunjukkan kemampuan yang cukup untuk mendapatkan rezeki yang telah ditebar Allah Ta`ala di muka bumi ini. Kesungguhan mendapat rezeki Allah itu menjadi suatu keharusan, bahkan bisa menjadi wajib, apabila rezeki itu akan berguna bagi ibadah seorang hamba. Mencari rezeki Allah itu bagi manusia telah menjadi sunattullah. Jaminan Allah atas rizeki manusia, sebagaimana pula Allah telah menjamin rezeki bagi seekor anak hewan yang baru lahir dan membiarkannya hidup, karena Allah telah menjadikan rezeki. Demikian juga halnya binatang melata ketika lahir, mampu melangsungkan hidupnya karena jaminan Allah atas rezekinya masing-masing. Sebagaimana Allah berfirman, “ Tiada seekor binatang melata pun di muka bumi ini, melainkan telah dijamin oleh Allah rezekinya…
      Dalam menuntut rezeki di muka bumi ini Allah tidak memaksa manusia agar mendapatkan harta yang berlimpah-limpah. Manusia diberi kesempatan memenuhi kebutuhan hidupnya menurut kemampuan mereka masing-masing. Yang yang diajarkan oleh Islam dalam masalah harta ialah agar manusia tidak bersifat berlebih-lebihan. Karena sikap ini akan membawa ketamakan. Sedangkan ketamakan akan menjurus kepada kerusakan dan aniaya. Sikap rakus dan aniaya akan membutakan hati  manusia.
      Orang mukmin ketika mencari rizki dengan sungguh-sungguh selalu memperhatikan pula cara ber-muamalah, sikap hati-hati, serta mampu membedakan  antara harta yang halal dan harta yang haram.
      Jaminan yang telah diberikan oleh Allah dalam hal rezeki ini seperi difirmankan dalam Al-Quranul Karim. “Perintahlah keluargamu mendirikan shalat, dan berlaku tabahlah menghadapi hidup. Tak perlu kamu bertanya soal rezeki.
      Karena Allah ta`ala telah menjamin rezeki hamba-hamba-Nya, maka kesungguhan hamba untuk berikhtiar dan memohon dari Allah sangat dituntut. Pemberian Allah kepada manusia sesuai dengan ketaatan manusia kepada Allah.
      Seperti sudah dijelaskan di atas, bahwa kedudukan seorang hamba dalam kaitannya dengan rezeki yang diterimanya dari Allah, sangat erat dengan anugerah yang harus dijaganya. Rezeki sebagai pemberian Allah, haram untuk disia-siakan, dan wajib untuk dimanfaatkan bagi agama Allah dan sesama hamba-Nya.
      Rezeki banyak kaitannya dengan persiapan manusia untuk berjumpa dengan Allah. Rezeki selain menjadi bekal hidup dunia, termasuk pula untuk bekal hidup diakherat. Apabila harta yang telah direzekikan kepada manusia dipergunakan untuk kepentingan agama dan amal saleh, seperi menginfakkan dan menzakatkannya. Allah Ta`ala berfirman dalam Al Qur`an, “Berbekallah kamu, karena sebaik-baiknya bekal adalah menunjukkan ketakwaanmu kepada Allah.”
      Ketaqwaan dalam harta, tidak lain adalah memberikan harta itu kepada hamba Allah yang berhak menerima. Karena dalam harta setiap muslim itu terkandung hak orang-orang dhu`afa.

TASAWUF


Segala puji bagi Allah SWT, Tuhan semesta alam. Sholawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada junjungan kita Sayyidina Muhammad Saw beserta keluarga dan para sahabatnya.
Semoga ini dapat memberikan jawaban, untuk kelompok2 yang selalu berusaha untuk memojokkan, menelanjangi bahkan memerangi Tasawuf. Berpijak pada keperihatinan saya terhadap kajian-kajian, diskusi dari kelompok tertentu dari umat ini, dan ulasan-ulasan dari media-media dakwah mereka, yang secara tersirat atau bahkan secara terang-terangan menetapkan Tasawuf sebagai kayakinan yang batil. Apapun alasannya sudah barang tentu tindakan ini merupakan usaha pengkafiran terhadap Tasawuf. Mengkafirkan Tasawuf adalah kafir.
Dengan selalu mengharapkan Ridho Allah SWT, semoga yang saya tulis dari "Risalah Qusyairiyah" berikut dapat membuka hati saudara-saudaraku yang selalu  memicingkan sebelah mata terhadap Tasawuf. Seorang sufi tentunya tidak akan pernah membalas orang lain atas keburukan yang ditimpakan kepada dirinya, apa yang saya lakukan ini sudah barang tentu menunjukkan bahwa diri saya bukanlah seorang sufi. Tapi saya melakukan ini atas kecintaan saya kepada orang-orang  yang mencintai Allah SWT dan Rasulullah Saw dengan tanpa batas, dan saya selalu berharap semoga  Allah SWT selalu meridhoi apa yang saya lakukan ini.
Pada kesempatan ini semoga pertanyaan-pertanyaan tentang Tasawuf, bahkan anggapan-anggapan miring tentang seorang sufi yang menganggap sufi tak ubahnya hanyalah seorang pemalas berbaju wol yang menutupi borok kemalasannya dengan berpura-pura mencintai Tuhannya, dapat terjawabkan.
InsyaAllah bila Allah SWT memanjangkan umur saya, akan saya hadirkan banyak hal tentang Tasawuf dikesempatan yang lain. Semoga Allah SWT tidak pernah memalaskan otak dan hati saya.
dr T.H




Ustadz Asy-Syaikh berkata,”Bersih (tulus) itu terpuji oleh semua lisan, dan lawannya adalah kotor yang tercela.”
Diriwayatkan dari Yazid bin Abu Ziyad dari Abu Jahaifah yang berkata bahwa Rasulullah Saw, pernah datang kepada kami yang wajahnya tampak seperti marah, lalu bersabda : 





“ Telah hilang kebersihan dunia. Tinggal keruhnya. Maka, mati hari ini adalah sesuatu yang mahal bagi setiap muslim.”
Hadist disebutkan dalam Al-Kanz 15/551 nomor 42138, Hadist riwayat Daruquthni dari Jabir

Ustadz Asy-Syaikh berkata,”Nama ini (tasawuf) telah melekat pada kelompok ini, sehingga dikatakan, dia seorang sufi. Jika kelompok mereka itu shuffiyah (orang-orang sufi), maka jika seseorang telah mencapai nama itu, dia itu disebut mutasawwif. Bentuk pluralnya mutashawwifah. Nama ini menurut bahasa arab bukan termasuk qias atau istiqoq (kata pecahan atau jadian). Nama ini semacam julukan. Adapun ucapan yang mengatakan,”ini dari bahan wol (suf)” , jika kata itu diambil dari kata tashawwafa. Artinya memakai baju wol, sebagaimana kata taqammasha (dari kata qamis) yang berarti memakai baju gamis. Ini dari satu sisi. Akan tetapi, orang-orang arab tidak mengkhususkan nama tashawwafa dengan mengenakan pakaian wol.
Ada yang mengatakan ,”Mereka (mutasyawwifah) adalah orang-orang yang dinisbatkan pada sifat masjid Rasullullah saw. Padahal penisbatan  pada sifat ini bukan untuk para sufi. Sedangkan pendapat yang mengatakan, “Kata tasawwuf diambil dari kata ash-shaofa” yang berarti ketulusan. Kata-kata ini sangatlah jauh jika ditinjau dari pecahan kata asli menurut bahasa arab. Ada yang mengatakan  tasawwuf berasal dari kata shaff (barisan) terdepan dihadapan Allah karena ketulusan hatinya. Makna ini memang benar, namun dari segi bahasa tidak sesuai dengan penisbatan pada kata shaff. Kemudian kelompok ini memang sangat terkenal dan banyak orang yang menanyakan arti tashawwuf itu sendiri.
Siapakah sufi itu ? maka masing-masing orang mengungkapkan seperti ini, dan kami akan menguraikan pendapat mereka dengan jelas.”

Ahmad Al-Jariri pernah ditanya tentang tasawuf, maka jawabnya, “ Memasuki dalam semua akhlaq Nabi dan keluar dari semua akhlaq yang tak terpuji.”
Al-Junaid ditanya tentang tasawuf, jawabnya,”Yaitu kebenaran yang kamu palingkan dapat mematikanmu, dan dengan kebenaran itu dapat menghidupkanmu.”
Al-Husin bin Manshur ditanya tentang seorang sufi, jawabnya,”Orang yang berkepribadian tunggal, tidak mencium orang dan tidak dicium orang.”
AbuHamzah Al_Bagdadi berkata,”Tanda seorang sufi yang tulus adalah keberadaan seseorang yang menjadi miskin setelah kaya, menjadi hina setelah jaya dan menjadi tersembunyi setelah terkenal. Tanda seorang sufi yang dusta adalah keberadaan seseorang yang menjadi kaya setelah miskin, menjadi jaya setelah hina dan menjadi terkenal setelah tersembunyi.”
Amr bin Utsman Al-Makki pernah ditanya tentang tasawuf, lalu dijawab, “Seseorang hamba yang setiap waktu meningkat kebaikannya.”
Muhammad bin Ali Al-Qashashab berkata ,”Tasawuf itu adalah akhlaq yang terpuji, yang tampak dimasa yang mulia, dari seorang yang mulia, bersama orang-orang yang mulia.”
Sumnun pernah ditanya tentang tasawuf, jawabnya, “Janganlah memiliki sesuatu dan janganlah dimiliki sesuatu.
Ruwaim pernah ditanya tentang tasawuf, jawabnya,” Jiwa yang menurut kepada Allah sesuai dengan kehendak-Nya.
Al-Junai pernah ditanya tentang tasawuf,  lalu jawab,”Hendaklah kamu bersama Allah saja, tidak punya hubungan lain.
Ruwaim bin Ahmad berkata,”Tasawuf itu dibangun atas tiga hal: Berpegang teguh dengan kemiskinan dan menjadi miskin, suka memberi dan lebih mengutamakan orang lain daripada dirinya sendiri, menutup diri dan penuh pasrah kepada Allah.
Menurut Ma`ruf Al-Kharkhi, tasawuf  itu mengambil hakikat dan berputus asa dari apa yang ada pada tangan mahluk. Hamdun Al-Qashashar mengatakan,”Bagi orang-orang sufi kejelekan banyak  alasannya, tetapi kebaikan bukan merupakan kebanggaan mereka. Mereka menghormati seseorang karena kebaikan.”
Al-Kharraz pernah ditanya tentang orang-orang ahli tasawuf, jawabnya,”Mereka adalah orang-orang yang diberi Allah sehingga dilimpahi nikmat-nikmat-Nya dan hal-hal yang luar biasa. Mereka tenang bersana Allah. Mereka tidak berpaling dari Allah sehingga tidak perduli dengan dirinya sampai meninggal, kemudian mereka dipanggil dari jiwa-jiwa yang lembut, “Ingatlah, menangislah karena ditinggal mereka.”
Al-Junaid,”Tasawuf merupakan sikap tunduk yang tidak ada kompromi sama sekali. “ Katanya lagi,”Mereka itu adalah keluarga satu rumah yang tidak dapat dimasuki orang lain.”
Tasawuf itu pikiran yang penuh dengan konsentrasi satu, hati yang bersandar kepada Allah, dan perbuatan yang bersandar kepada kitabullah dan sunah Rasul-Nya,” kata seorang ulama.
Orang sufi itu sepeti tanah, setiap kejelekan (kotoran dilemparkan kepadanya, tapi tanah itu masih tetap membuahkan yang baik, “kata sebagian yang lain.”Orang sufi tu seperti bumi yang diinjak oleh orang baik dan orang yang jelek, atau seperti mendung yang menutupi (mengayomi) segala sesuatu yang ada, dan seperti tetesan air yang menyirami smuanya,”kata lainnya. “Jika kamu melihat seseorang yang zhohirnya sufi, maka ketahuilah bahwa bathinnya kropos,”kata lainnya lagi.
Sahal bin Abdullah berkata,”Orang sufi adalah orang yang melihat darahnya sendiri sia-sia dan segala miliknya dihalalkan untuk orang lain.
Sifat seorang sufi adalah tenang jika miskin dan lebih mengutamakan orang lain jika mempunyai sesuatu,”kata Ahmad An-Nuri.”Tasawuf adalah akhlaq, maka barangsiapa bertambah baik akhlaqnya, maka akan bertambah mantap tasawufnya (semakin bersih jiwanya),” kata Muhammad bin Ali Al-Kattani. “Tasawuf itu menetap dipintu kekasih (Allah) walaupun ia terusir  (karena dosanya),”kata Ahmad bin Muhammad Ar-Rudzabari. Kebersihan hati yang dekat kepada Allah adalah setelah jauh dari Allah karena kotoran dosa,”katanya lagi.
Orang yang paling buruk adalah orang sufi yang Bakhil,” kata seorang ulama. “Tasawuf adalah tangan yang hosong (banyak memberi sampai habis) dan hati yang baik,” kata sebagian ulama
Dalf Asy-Syibli berkata,”Tasawuf adalah duduk bersama Allah tanpa merasa sedih sedikitpun.”
Dikatakan bahwa sufi adalah seseorang yang menunjukkan kebenaran tentang Allah, karena mahluk itu butuh Allah.
Dalf Asy-Syibli berkata,”Seorang sufi itu terputus dari mahluk dan bersambung dengan Allah, sebagaimana dalam firman-Nya :



“Dan aku telah memilihmu untuk diriku (QS. Thaha :41)
ia memutuskan segala hubungan dengan selain Allah, kemudian berkata,”Kamu tidak akan melihatku.”
Orang-orang sufi adalah anak-anak kecil yang berada dipangkuan Allah,” katanya lagi .“Sedangkan tasawuf  itu seperti kilat yang mampu membakar.” Lanjutnya.
Dikatakan bahwa tasawuf adalah benteng diri dari memandang dunia. Ruaim bin Ahmad berkata,”Orang-orang sufi tetap baik walaupun mereka dimusuhi. Jika mereka telah damai (takut dimusuhi), maka tiadalah kebaikannya.
Ahmad Al-Jarir berkata, “Tasawuf selalu mengoreksi hal ihwal dirinya dan menetapi sopan-santun.” Tasawuf tunduk kepada kebenaran , “kata Ali Al-Muzayyin.”Orang sufi (oarng yang bersih) tidak bisa dikotori suatu apapun, bahkan semua yang keruh menjadi jernih karena dia,” kata Askar An-Nasksybi.
Dikatakan bahwa seorang sufi tidak diikuti tuntutan dan tidak terganggu oleh sebab.
Dzun Nun Al-Mishri pernah ditanya tentang orang-orang sufi, lalu dijawab,”Yaitu orang-orang yang mengutamakan Allah daripada lainnya, sehingga Allah lebih mengutamakan mereka daripada lainnya.”
Muhammad Al-Wasithi berkata,”Manusia yang telah mempunyai tanda-tanda (isyarat), kemudian terjadi pelanggaran sehingga tiada akibatnya selain penyesalan.
Ahmad An-Nuri pernah ditanya tentang seorang sufi, lalu dijawab,”Yaitu orang yang mendengarkan apa yang didengar dan lebih mendahulukan sebab.”
Abu Nashr As-Siraj Ath_Thusi berkata,”Saya bertanya Ali Al-Hushri,”Siapakah orang sufi itu menurutmu ? “ Jawabnya, “ Orang sufi adalah orang yang tidak menginjak bumi dan tidak dinaungi langit.”
Ustadz Abul Qasim Al-Qusyairi berkata,” Akan tetapi, dia mengisaratkan kepada kondisi penghapusan.”
Dikatakan bahwa seorang sufi jika berhadapan dengan dua hal yang sama-sama baik, dia selalu mengerjakan yang terbaik.
Dalf Asy-Syibli pernah ditanya,”kenapa mereka member nama ini dengan nama (sufi)?” Lalu menjawab,”Karena masih ada jiwa mereka yang tersisa, kalau karena bukan hal itu, pastilah tidak ada hubungan nama (sufi) dengan mereka.
Ahmad bin Al-Jalla` ditanya,”Apakah arti sufi?” jawabnya, “Kami tidak mengetahuinya dalam syarat ilmu pengetahuan, akan tetapi kami mengetahui bahwa sufi itu adalah orang yang benar-benar miskin dari sebab. Dia selalu bersama Allah tanpa temp[at, dan Allah tidak kesulitan mengetahuinya disegala tempat. Dia adalah orang sufi.
Abu Ya`kub Al-Muzabili berkata,”Tasawuf adalah suatu kondisi yang hilang dari dunia manusia.
Abul Hasan As-Sirwani berkata,”Orang sufi itu orang yang mengikuti aturan sufi bukan membaca wirid.”
Saya mendengar Ustadz Abu Ali Ad-Daqaq, semoga Allah merahmatinya, berkata,”Sebaik-baik dalam bab ini adalah ucapan yang mengatakan,”Jalan ini tidak patut kecuali bagi orang-orang yang lurus. Sesungguhnya Allah telah menyapu bersih kotoran mereka dengan jiwa mereka.
Katanya lagi di suatu hari,”Seorang miskin tiada yang dimilikinya selain jiwa, lalu dihadapkan kepadanya anjing-anjing penjaga pintu, namun tidak ada satu anjingpun yang melihatnya.”
Abu Sahal Ash-Sha`luki berkata,”Tasawuf berpaling dari semua rintangan.” Ali Al-Hushri berkata,”Seorang sufi itu tidak ada setelah hilang, dan tidak hilang setelah ada.”
Ustadz Abul Qasim Al-Qusyairi berkata,”Maksud ucapan ’ tidak ada setelah hilang, dan tidak hilang setelah ada’ adalah jika telah hilang perbuatan-perbuatan tercelanya, maka tidak akan terulangi lagi, dan jika telah sibuk dengan Allah, maka tidak bisa terganggu oleh mahluknya. Apapun yang terjadi tidak mempengaruhinya sedikitpun.
Dikatakan bahwa orang sufi adalah orang yang mencabut semua kejelekanh sampai akarnya, dan menggantinya dengan apa saja yang benar.”Orang sufi dipaksa untuk memurnikan ketuhanan dan tertutup dengan perbuatan ibadahnya,”kata seorang sufi. “Orang sufi tidak berubah. Jika harus berubah, perubahan itu tidak sampai menjadikannya kotor,” kata sebagian sufi lainnya.

DO`A ABUNAWAS

DO`A ABUNAWAS



DOA UNTUK MENOLAK GANGGUAN SETAN

DOA UNTUK MENOLAK GANGGUAN SETAN


















"Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna, yang tidak akan diterobos oleh orang baik dan orang durhaka, dari kejahatan apa yang diciptakan dan dijadikan-Nya, dari kejahatan apa yang turun dari langit dan yang naik ke dalamnya, dari kejahatan yang tumbuh di Bumi dan yang keluar dari padanya, dari kejahatan fitnah-fitnah malam dan siang, serta dari kejahatan-kejahatan yang datang ( di waktu malam ) kecuali dengan tujuan baik, Wahai Tuhan Yang Maha Pengasih"



LIHAT

H.R Ahmad 3/419 dengan sanad yang shahih, Ibnu Sunni no. 637, lihat pula Majma`uz Zawa`id 10/127 dan   Takhrijuth Thahawiyah lil Arnauth 133


    

ASSALAAMUALAIK

SIDNANNABIY

DO`A AGAR DAPAT MELUNASI HUTANG

DO`A AGAR DAPAT MELUNASI HUTANG

  

      Islam telah mengatur secara komplit dan jelas perihal hutang-piutang. Diperbolehkannya hutang-piutang seharusnya tidak menjadikan manusia buta dan membutakan diri terhadap ketetapan hukum yang berlaku dalam Islam. Prinsip dasar yang menjadikan masalah hutang-piutang menjadi maslahat adalah jangan seseorang berhutang jika tidak tahu kapan bisa mengembalikan, dan jangan memberi hutang jika tidak ada keikhlasan untuk tidak dikembalikan.
      Dizaman sekarang ini semua orang cenderung berprilaku bodoh dengan  menjerumusakan diri dalam kubangan hutang. Sombong, iri, egois, ingin dilihat wah..dll ternyata banyak membawa manusia kedalam kehancuran. Banyak kita temui sekarang ini seseorang berhutang karena malu menyandang predikat manusia sederhana, padahal bukankah Rasulullah SAW sendiri adalah pribadi yang sangat sederhana ???
Jika Rasullulah SAW tauladan kita adalah pribadi yang penuh dengan kesederhanaan, mengapa kita malu menyandang predikat manusia yang sederhana ? Sangat jelaslah, bahwa segala macam bentuk ketidaksederhanaan bukanlah tauladan dari Rasullulah SAW. Apa akibatnya jika manusia tidak menauladani Beliau, Rasulullah SAW ? Dapat dipastikan rusaklah kehidupan dunia dan akhirat mereka.
      Keterpurukan yang manusia sendiri lakukan, mendorong manusia untuk berprilaku menyimpang. Menyekutukan Allah, meminta pertolongan kepada selain Allah atau berbuat  Syirik,  ternyata perbuatan syirik sebagian besar  berawal dari masalah hutang-piutang. Mereka mendatangi tempat-tempat keramat, kuburan, mendatangi dukun/ orang pintar/ bahkan kyai yang berprofesi sebagai dukun/ paranormal untuk meminta pertolongan dalam menyelesaikan masalah hutang-piutang mereka. Semoga kita semua terhindar dari kesyirikan. Hanya kepada Allah SWT kami menyembah dan hanya kepada Allah SWT kami memohon pertolongan. Agar dapat melunasi hutang kita amalkan do`a yang sesuai tuntunan  Rasulullah SAW berikut :



ﺍﻠﻠﻬﻡ ﺍﻜﻔﻨﻲ ﺑﺤﻼ ﻟﻚ ﻋﻦ ﺤﺮﺍﻤﻚ ﻭﺃﻏﻨﻨﻲ ﺑﻔﻀﻟﻚ ﻋﻤﻦ ﺴﻮﺍﻚ

Ya Allah, cukupilah aku dengan (rezeki)-Mu yang halal ( hingga aku terhindar) dari yang haram. Kayakanlah aku dengan kenikmatan-Mu (hingga aku tidak minta kepada) selain-Mu.” 1

ﺍﻠﻠﻬﻡ ٳﻨﻲ ﺃﻋﻮﺬ  ﺒﻚ ﻤﻥ ﺍﻠﻬﻡ ﻮﺍﻠﺤﺰﻦ، ﻮﺍﻠﻌﺠﺯ ﻮﺍﻠﻜﺴﻞ، ﻮﺍﻠﺑﺨﻞ ﻮﺍﻠﺠﺑﻦ، ﻮﻀﻟﻊ ﺍﻠﺪ ﻴﻦ ﻮﻏﻟﺑﺔ ﺍﻠﺮﺟﺎﻝ

Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari keluh kesah dan rasa sedih, dari kelemahan dan kemalasan, dari sifat bakhil dan penakut, dari cengkraman utang dan laki-laki yang menindas-(ku).” 2

LIHAT
1.       H.R Tirmidzi 5/560, lihat Shahih Tirmidzi 3/180
2.       H.R Bukhari 7/158, “ Adalah Rasulullah memperbanyak (membaca) doa ini, lihat Bukhari dalam Fathul baari 11/173

NB : Mohon maaf, hadist diatas tidak sempat  kami harokat_i. Dan untuk membantu membacanya kami tulis dalam BI 
1. Allohummakfinii bikhalaalika `an kharoomika wa aghnanii bi fadhlika `amman siwaaka
2. Allohumma inni `auudzubika minal hammi wal khazani, wal ajzi wal kasali, wal bukhli wal jubni, wa dhola`idaini wa gholabatirrijaali
-Dr T.H-

DO`A DI SAAT MENGALAMI KESEDIHAN YANG MENDALAM


DO`A DI SAAT MENGALAMI KESEDIHAN YANG MENDALAM
      Manusia dan Kesedihan adalah dua hal yang tidak terpisahkan. Ada kalanya rasa itu begitu saja datang dan pergi, tetapi tidak jarang pula hinggap didalam hati dalam waktu yang lama dan berlarut-larut begitu mendalam. Adalah manusiawi jika kita mengalami kesedihan, kamana lagi kita dapat memohon pertolongan..?  hanya kepada Allah SWT kita menyembah dan kita memohon pertolongan. Dan seharusnyalah permohonan pertolongan seorang hamba kepada Rob_nya sesuai dengan ajaran Rasulullah SAW, agar manusia yang lemah ini terhindar dari segala macam bentuk kesesatan.

لاَإلهَ ِإلااَنْتَ سُبْحَانَكَ ِإنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِيْنَ




Tiada tuhan yang berhak disembah selain Alloh, Maha suci engkau sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang dzalim”  1

اللهُ اللهُ رَبِّي لاَﺍُشْرِِكُ ِبِِهِ شَیْئًا




Allah, Allah adalah Tuhan –ku, sedikitpun tidak menyekutukannya” 2
                                                                                                                                                                              

لاَإلَهَ ِإلاﱠ اللهُ الْعَظِيْمُ الْحَلِيْمُ، لاَ ِإلَهَ ِإلاﱠ اللهُ رَبﱡ الْعَرْشِ الْعَظِيْمِ ،لاَ ِإلَهَ ِإلاﱠ اللهُ رَبﱡ السَّمَوَاتِ وَرَبﱡ الأرْضِ وَرَبُّ الْعَرْشِ الْكَرِيْمِ   


Tiada Tuhan yang berhak disembah selain Allah, yang Maha Agung dan Maha Lembut, tiada Tuhan yang berhak di sembah selain Allah, Tuhan `Arasy yang agung. Tiada Tuhan yang berhak di sembah selain Allah, Tuhan langit dan bumi dan Tuhan `Arsy yang Mulia” 3

 اللَّهُم رَحْمَتَكَ ٲرْجُوْ فَلاَ تَكِلْنِي ِإلََي نَفْسِي َطرْفَة ًعَيْن ، وَٲصْلِحْ لِي شَٵْْ نِي كُلَّهُ، لاَإلَهَ إلاَّ اَنْتَ  




Ya Allah, rahmat-Mu aku harapkan, janganlah Engkau serahkan (segala urusanku) atas diriku walau sekejap mata, perbaikilah segala urusanku, tiada Tuhan yang berhak disembah selain Engkau” 4

Lihat
1         H.R Tirmidzi 5/529 dan riwayat Hakim yang disetujui dan dishahihkan oleh Dzahabi  1/505.  Lihat Shahih Tirmidzi  3/168
2         H.R Abu Dawud  2/87, Shahih Ibnu Majjah 2/335
3         H.R Bukhari 7/154 dan Muslim 4/2092
4         H.R Abu Dawud  4/324, Ahmad 5/42, Shahih Abu Dawud 3/959

-Dr Taufiq Hidayat-

SAMUDERA HIKMAH


ﺼﻟﻰ ﻮﺴﻠﻢ ﺪﺍﺌﻣﺎ
  Habib Syech bin Abdul Qodir Assegaf (solo)

ﺼﻟﻰ ﻮﺴﻠﻢ ﺪﺍﺌﻣﺎ ﻋﻠﻰﺍﺤﻣﺪﺍ (٢) ۩  ﻮﺍﻻﻝ ﻮﺍﻻﺼﺤﺎﺏ ﻣﻦ ﻘﺪ ﻮﺤﺪﺍ (٢)
Ayo dho ngurangi nonton televisi
Timbang nonton tivi luwih becik ngaji
Ahbabul Mustofa wadah kanggo ngaji
Kumpul poro Habaib lan poro Kyai

ﺼﻟﻰ ﻮﺴﻠﻢ ﺪﺍﺌﻣﺎ ﻋﻠﻰﺍﺤﻣﺪﺍ (٢) ۩  ﻮﺍﻻﻝ ﻮﺍﻻﺼﺤﺎﺏ ﻣﻦ ﻘﺪ ﻮﺤﺪﺍ (٢)
Ayo bareng-bareng mangkat pengajian
Kanthi ati seneng arep Sholawatan
Ngajak tonggo-tonggo ngadak_ke rombongan
Colt brondol disewo urun rong ewunan

ﺼﻟﻰ ﻮﺴﻠﻢ ﺪﺍﺌﻣﺎ ﻋﻠﻰﺍﺤﻣﺪﺍ (٢) ۩  ﻮﺍﻻﻝ ﻮﺍﻻﺼﺤﺎﺏ ﻣﻦ ﻘﺪ ﻮﺤﺪﺍ (٢)
Sholat 5 waktu ayo podho njogo
Jama’ah ning masjid bareng sa’ kluargo
Ganjarane selawe celengan suwargo
Malah bisa dadi pitulikur ugo

ﺼﻟﻰ ﻮﺴﻠﻢ ﺪﺍﺌﻣﺎ ﻋﻠﻰﺍﺤﻣﺪﺍ (٢) ۩  ﻮﺍﻻﻝ ﻮﺍﻻﺼﺤﺎﺏ ﻣﻦ ﻘﺪ ﻮﺤﺪﺍ (٢)
Yen sholat kesusu ora bisa pernah
Ruku’ lan sujud_e ditoto sing genah
Sing khusuk lan khudur ugo tumak ninah
Ngerteni sing wajib lan ngerti sing sunnah

ﺼﻟﻰ ﻮﺴﻠﻢ ﺪﺍﺌﻣﺎ ﻋﻠﻰﺍﺤﻣﺪﺍ (٢) ۩  ﻮﺍﻻﻝ ﻮﺍﻻﺼﺤﺎﺏ ﻣﻦ ﻘﺪ ﻮﺤﺪﺍ (٢)
Yen kahanan longgar mikiro tonggone
Mikir nang butuh_e sing kanggo blanjane
Sajak perlu utang enggal di paringi
Nanging ojo nganti njaluk anakane

ﺼﻟﻰ ﻮﺴﻠﻢ ﺪﺍﺌﻣﺎ ﻋﻠﻰﺍﺤﻣﺪﺍ (٢) ۩  ﻮﺍﻻﻝ ﻮﺍﻻﺼﺤﺎﺏ ﻣﻦ ﻘﺪ ﻮﺤﺪﺍ (٢)
Lanang karo wadhon podho keluyuran
Pamit ning wong tuwo jare pengajian
Ing nyatane malah dho pacar-pacaran
Budhal seko ngaji dho bonceng-boncengan

ﺼﻟﻰ ﻮﺴﻠﻢ ﺪﺍﺌﻣﺎ ﻋﻠﻰﺍﺤﻣﺪﺍ (٢) ۩  ﻮﺍﻻﻝ ﻮﺍﻻﺼﺤﺎﺏ ﻣﻦ ﻘﺪ ﻮﺤﺪﺍ (٢)
Lanang karo wadhon manggon sepi-sepi
Nyandhing senggal-senggol koyo’ kebo sapi
Ngono kuwi dhuso nurut poro Nabi
Ojo diterusno yen durung dirabi

ﺼﻟﻰ ﻮﺴﻠﻢ ﺪﺍﺌﻣﺎ ﻋﻠﻰﺍﺤﻣﺪﺍ (٢) ۩  ﻮﺍﻻﻝ ﻮﺍﻻﺼﺤﺎﺏ ﻣﻦ ﻘﺪ ﻮﺤﺪﺍ (٢)
Klambine you can see utowo press body
Mbukak aurot_e ora duwe wedhi
Ngono kuwi podho karo mbukak wadi
Bakal trimo sikso suk yen uwis mati

ﺼﻟﻰ ﻮﺴﻠﻢ ﺪﺍﺌﻣﺎ ﻋﻠﻰﺍﺤﻣﺪﺍ (٢) ۩  ﻮﺍﻻﻝ ﻮﺍﻻﺼﺤﺎﺏ ﻣﻦ ﻘﺪ ﻮﺤﺪﺍ (٢)
Sopo wong_e taqwo ati dadi padhang
Sopo wong_e taqwo urip dadi tenang
Sopo wong_e taqwo rezeki dadi gampang
Senajan BBM, lengo gas dadi larang

ﺼﻟﻰ ﻮﺴﻠﻢ ﺪﺍﺌﻣﺎ ﻋﻠﻰﺍﺤﻣﺪﺍ (٢) ۩  ﻮﺍﻻﻝ ﻮﺍﻻﺼﺤﺎﺏ ﻣﻦ ﻘﺪ ﻮﺤﺪﺍ (٢)
Siro dipilih rakyat gaweo bungah rakyat
Siro dipilih rakyat gaweo seneng rakyat
Siro dipilih rakyat ojo ngapusi rakyat
Siro dipilih rakyat ojo gawe gelo rakyat

ﺼﻟﻰ ﻮﺴﻠﻢ ﺪﺍﺌﻣﺎ ﻋﻠﻰﺍﺤﻣﺪﺍ (٢) ۩  ﻮﺍﻻﻝ ﻮﺍﻻﺼﺤﺎﺏ ﻣﻦ ﻘﺪ ﻮﺤﺪﺍ (٢)


-Dr Taufiq Hidayat-